Sudah banyak orang yang tahu, profesi sebagai pemulung mungkin bukan hal yang bisa dibanggakan. tapi pemulung, merupakan penyelamat lingkungan yang paling berjasa. bayangkan kota Surabaya tanpa adanya pemulung. Sampah-sampah yang dibuang oleh warga kota akan dibuang begitu saja ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa adanya pemilahan terlebih dahulu.
Bersama Dewan Kota Surabaya, kami diajak untuk berbagi pengalaman suka duka menjadi pemulung.
Beliau adalah Bapak Marjito, Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI). Di jalan Kutisari I/7, kami belajar satu hal dari beliau. Semangat juang yang tak pernah putus.
Dengan menganut sistem jemput bola, pak Marjito mengambil sampah Mall2 di Surabaya. Total ada 11 mall yang beliau tangani. Dari 100% sampah yang dibuang oleh pihak mall, 70% diantaranya laku dijual (plastik, kertas, roti, nasi, dll), dan sisanya 30% dibuang ke TPA. Omzet perbulan bisa mencapai puluhan juta rupiah, dengan asset yang dimiliki sekarang berupa 11 kontainer, 5 truck, dan 3 lahan. Dari sini kita bisa mengetahui, jika dikelola dengan baik, sampah yang bengis, merupakan peluang milyader bisnis.
